Menunggu itu... baikkah?


Menunggumu itu membahagiakanku
Kamu tak perlu tahu apa yang menjadi suratan isi nasib harian batin hidupku
Menunggumu itu tak sepahit adukan kopi hitam dalam secangkir gelas
Bukankah aku hanya perlu duduk?
Menanti detik demi detik berlalu sepi tanpa rasa manis

Rasa dalam menunggumu itu penuh aroma manis
Tentu saja rasanya tak akan pernah semanis gulali yang kita lihat dipinggir jalan tadi sore
Namun entah mengapa, aku masih saja suka menunggumu

Maafkan aku yang selalu duduk di depan pintumu
Pintu yang entah kenapa selalu terlihat terkunci ketika aku datang
Pintu yang selalu aku tunggu saat terbukanya

Ingin sekali aku dobrak pintu itu
Bolehkah?
Tentu saja tak boleh!! aku tak boleh merusaknya
Kalau pintu itu tak ada lagi
Aku takut tak ada lagi tempat untukku menunggu
Aku takut kamu memasang pintu baru
Pintu baru dengan selapis jeruji, ditambah kawat setrum, dan kunci gembok berlapis
AAAhhhh...
Sepertinya tak akan ada lagi tempatku untuk menunggumu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tertawan

죄송함니다