Untitled
Terkadang aku susah mengerti sikap cueknya seorang lelaki. Memang itu hal yang normal, tapi kadang juga susah dimengerti.
Ada yang sangat pintar mengambil hati seorang gadis sepertiku tapi ternyata aku hanya pemanis kehidupannya saja. Ada pula yang dari sikapnya, cara bicaranya, dan apa-apa kebaikan yang ia lakukan bisa membuatku jatuh hati, tapi entah aku ini sebagai apa di kehidupannya. Penghibur? Penyembuh lara hati? Yah entahlah. Aku tidak terlalu ambil pusing. Karena yang jelas, semua orang akan mendapat hl yang sama dengan apa yang ia lakukan terhadap orang lain. Termasuk diriku sendiri.
Aku pernah baca bahwa jika pasanganmu mengenalkanmu kepada temannya, berarti ia memilihmu. Entah kebenarannya akurat atau tidak, aku juga masih bingung dengan apa maksud dari semua tindakamu terhadapku. Mungkin bisa dibilang aku ragu. Atau bisa juga dibilang, hatiku masih dalam tahap penyembuhan.
Aku lagi dekat dengan seorang lelaki, bisa disebut pria, dia baik, perhatian, peduli dengan apa yang ada padaku, mau menemaniku, tapi entah mengapa semakin hari aku semakin tidak mengerti. Aku juga dikenalin ke teman kerjanya. Tapi sebelum aku bertemu dengan temannya, dia bilang siapa tahu aku suka dengan temannya. Ketika itu juga aku hanya bisa bergumam dalam hati bagaimana jika yang kusuka itu kamu? mungkin gak sih aku ada dihatimu? dan asal kamu tahu, aku menikmati tiap detiknya ketika berada didekatmu :').
Bisa dibilang aku lagi kasmaran, terlebih sama kamu. Tapi kata ibu, jangan terlalu cepat mengambil perasaan yang seperti itu. Entahlah kau merasakan hal yang sama atau tidak, aku tidak tahu. Bukan aku tak perasa, tapi trauma masa lalu terlalu menenggelamkan kepekaanku terhadap orang yang mencoba mendekatiku. Miris :").
Trauma itu masih menghantuiku. Orang sebelum mu lah yang membuatku trauma yang amat menakutkan. Dia memiliki golongan darah yang sama denganmu. Dia baik. Tidak sombong. Ya meskipun sebelum kekecewaan yang dahsyat itu terjadi, aku sudah merasa kalau dia sudah ada yang punya. Bukan aku ingin merebutnya, tapi hatikulah yang terlalu luluh atas sikapnya. Meskipun dia bersikap baik, aku selalu berfikir jangan ambil hati. Atau mungkin, aku yang terlalu baik? Tidak tega? Dan mengorbankan perasaanku sendiri? Entahlah, terkadang aku tidak suka menjadi orang baik. Karena di akhir zaman seperti ini, orang yang bersikap baik dan dibalas dengan kebaikan, orang tersebut akan meremehkan dan membalasnya balik dengan kejahatan, apapun bentuknya. Orang yang tahu agama pun, terkadang melakukan hal serupa karena lingkungan sekitarnya yang mencemari apa yang ada didalam dirinya yang sebenarnya.
Tapi untuk bersikap jahat pun sebenarnya tidak tega. Kadang bingung sendiri harus seperti apa menyikapi sikap orang lain terhadapku? Harus jahat? Atau baik?
Kata temanku, aku itu orang yang tegas. Kalau mau ya jawab iya. Kalau tidak mau ya jawab tidak. Padahal sering kali kalau mood lagi tak menentu, sikap tegasku sedikit menghilang. Entahlah, mungkin ini rasanya jadi perempuan. Setegas apapun, pasti dia bisa luluh.
Ya Allah, apakah aku harus merasakan kekecewaan itu lagi? Apa aku kurang kuat? Sudah cukupkan rasa kekecewaan yang akan melandaku. Ku mohon ya Allah. Sudah sekian saja rasa kecewa yang melandaku selama ini. Cukup dia yang terakhir yang membuatku kecewa yang sangat hebat itu. Dan jadikan yang dia yang sekarang itu adalah yang terakhir untukku. Ku mohon ya Allah, kabulkanlah permintaanku :').
Ada yang sangat pintar mengambil hati seorang gadis sepertiku tapi ternyata aku hanya pemanis kehidupannya saja. Ada pula yang dari sikapnya, cara bicaranya, dan apa-apa kebaikan yang ia lakukan bisa membuatku jatuh hati, tapi entah aku ini sebagai apa di kehidupannya. Penghibur? Penyembuh lara hati? Yah entahlah. Aku tidak terlalu ambil pusing. Karena yang jelas, semua orang akan mendapat hl yang sama dengan apa yang ia lakukan terhadap orang lain. Termasuk diriku sendiri.
Aku pernah baca bahwa jika pasanganmu mengenalkanmu kepada temannya, berarti ia memilihmu. Entah kebenarannya akurat atau tidak, aku juga masih bingung dengan apa maksud dari semua tindakamu terhadapku. Mungkin bisa dibilang aku ragu. Atau bisa juga dibilang, hatiku masih dalam tahap penyembuhan.
Aku lagi dekat dengan seorang lelaki, bisa disebut pria, dia baik, perhatian, peduli dengan apa yang ada padaku, mau menemaniku, tapi entah mengapa semakin hari aku semakin tidak mengerti. Aku juga dikenalin ke teman kerjanya. Tapi sebelum aku bertemu dengan temannya, dia bilang siapa tahu aku suka dengan temannya. Ketika itu juga aku hanya bisa bergumam dalam hati bagaimana jika yang kusuka itu kamu? mungkin gak sih aku ada dihatimu? dan asal kamu tahu, aku menikmati tiap detiknya ketika berada didekatmu :').
Bisa dibilang aku lagi kasmaran, terlebih sama kamu. Tapi kata ibu, jangan terlalu cepat mengambil perasaan yang seperti itu. Entahlah kau merasakan hal yang sama atau tidak, aku tidak tahu. Bukan aku tak perasa, tapi trauma masa lalu terlalu menenggelamkan kepekaanku terhadap orang yang mencoba mendekatiku. Miris :").
Trauma itu masih menghantuiku. Orang sebelum mu lah yang membuatku trauma yang amat menakutkan. Dia memiliki golongan darah yang sama denganmu. Dia baik. Tidak sombong. Ya meskipun sebelum kekecewaan yang dahsyat itu terjadi, aku sudah merasa kalau dia sudah ada yang punya. Bukan aku ingin merebutnya, tapi hatikulah yang terlalu luluh atas sikapnya. Meskipun dia bersikap baik, aku selalu berfikir jangan ambil hati. Atau mungkin, aku yang terlalu baik? Tidak tega? Dan mengorbankan perasaanku sendiri? Entahlah, terkadang aku tidak suka menjadi orang baik. Karena di akhir zaman seperti ini, orang yang bersikap baik dan dibalas dengan kebaikan, orang tersebut akan meremehkan dan membalasnya balik dengan kejahatan, apapun bentuknya. Orang yang tahu agama pun, terkadang melakukan hal serupa karena lingkungan sekitarnya yang mencemari apa yang ada didalam dirinya yang sebenarnya.
Tapi untuk bersikap jahat pun sebenarnya tidak tega. Kadang bingung sendiri harus seperti apa menyikapi sikap orang lain terhadapku? Harus jahat? Atau baik?
Kata temanku, aku itu orang yang tegas. Kalau mau ya jawab iya. Kalau tidak mau ya jawab tidak. Padahal sering kali kalau mood lagi tak menentu, sikap tegasku sedikit menghilang. Entahlah, mungkin ini rasanya jadi perempuan. Setegas apapun, pasti dia bisa luluh.
Ya Allah, apakah aku harus merasakan kekecewaan itu lagi? Apa aku kurang kuat? Sudah cukupkan rasa kekecewaan yang akan melandaku. Ku mohon ya Allah. Sudah sekian saja rasa kecewa yang melandaku selama ini. Cukup dia yang terakhir yang membuatku kecewa yang sangat hebat itu. Dan jadikan yang dia yang sekarang itu adalah yang terakhir untukku. Ku mohon ya Allah, kabulkanlah permintaanku :').
Komentar
Posting Komentar